Sensasi Ultralight Fishing di Pulau Tikus

Baby trevally ala ultralight fishing

MANCINGMANIACOM - Apa yang ada di benak para mania jika mendengar kata Tikus? Nah bagaimana jadinya, jika  nama ini dijadikan lokasi wisata? Wah pasti penasaran bukan? Kali ini, redaksi MM akan menceritakan trip mancing Om Elan CS di Pulau Tikus.  

Pulau Tikus mempunyai lahan seluas 1,5 ha dan berlokasi di sekitar 10 km dari pusat Kota Bengkulu. ­Di perairan sekitar Pulau Tikus terdapat panorama alam laut yang indah serta beragam ekosistem karang dan biota laut. Selain bisa melihat dari keindahan bawah laut dengan snorkeling, disini para mania juga bisa melakukan kegiatan mancing, sekaligus menemukan jenis ikan yang beragam.

Untuk bisa menuju kesini, para mania harus melewati transportasi laut, dengan jangka waktu sekitar 45 menit. Cara inilah yang juga dilakukan oleh pemancing asal Bengkulu. Om Elan bersama ke 13 temannya berangkat dengan menggunakan perahu. Namun belum sampai di lokasi yang dituju, tiba-tiba perahunnya mengalami gangguan, alhasil harus menggunakan speedboat.

Walaupun sempat terkendala, namun tidak menurunkan niat tim untuk merasakan sensasi di Pulau Tikus. Bahkan saat di perjalanan pun, tidak bisa menikmati panorama laut karena harus saling berpegangan dan menggunakan jaket pelampung. Beruntung, menurut pantauan Om Elan, situasi laut saat itu sedang teduh. 

Sesampainnya di titik spot tubiran karang, segera mulai menyiapkan umpan dan langsung menggunakan teknik ngoyor atau biasa juga disebut nyobok. Suatu teknik dengan merendam atau menceburkan setengah badan ke laut. Untuk menggunakan teknik ini, diperlukan kehati-hatian dan wajib menggunakan  jaket pelampung.

Strike pertama pun diraih oleh om Rio Sucipto dengan ikan Kerapu, tak berselang lama, strike pun juga diraih oleh tim. Pesta strike pun terjadi.  Saat yang lain merasakan sensasi strike, tiba-tiba reel Om Eric Core berderit kencang, dengan respon yang singgap, fight pun terjadi. Namun sayang, kali ini dewi fortuna belum berpihak, tiba-tiba predator yang lebih besar memakan separuh badannya. Alhasil ikan GT 5 kg pun hanya setengah badan yang bisa di bawa. 

Berbeda dengan yang dialami oleh om Eric, menggunakan teknik ultralight dengan line 4 lb serta leader 12 lb, Om Elan berhasil menaikan GT, Kerapu, Bayeman dan Lencam Babi. Namun tidak semua dibawa pulang, beliau beralasan untuk menjaga ekosistem biota laut. Menurutnya di spot ini sangat cocok untuk mancing ultralight Fishing (UL), karena air yang dangkal dan banyaknya ikan-ikan yang berukuran kecil.

“Menggunakan teknik mancing UL, jelas berbeda dengan teknik lainnya. Menggunakan teknik ini, piranti yang digunakan pun lebih ringan dan tentunya saat fighting akan lebih terasa sensasinya. Beberapa teman sangat menyukai teknik ini karena sensasinya saat memainkan pirantinya, walaupun beberapa kali senar putus dan mocel” begitulan penuturan Om Elan kepada redaksi MM. (bima kepada red.mm)

Related Post

Your comment is awaiting moderation.