Bung Welly, Mancing dan Bekerja

Welly Sihombing dengan ikan GT tangkapannya.

MANCINGMANIACOM - Olahraga memancing memang tidak pernah mengenal umur dan ataupun golongan. Hal ini dibuktikan oleh satu mania mancing yang juga berprofesi sebagai tentara. Siapa dia? Yuk simak obrolan Welly Sihombing dengan redaksi MancingMania.com (MM).

Lahir di kota Palembang pada 3 Januari 1986, dan bersuku batak, membuatnya bisa menguasai 2 bahasa. Sejak umur 8 tahun Bung Welly sudah tinggal di kota yang terkenal dengan ciri khas pempek itu. Dari kota inilah Bung Welly mulai menentukan karirnya sebagai seorang TNI AD yonif 116/GS Kodam Iskandar Muda.

Setelah tamat sekolah SMA, Bung Welly membantu orang tuanya menjadi seorang tukang ojek pangkalan di pasar Lemabang, Palembang. Pada saat mengantar penumpangnya mendaftar TNI, beliau  sempat berbincang-bincang dan ada keinginan untuk ikut mendaftar. Setelah ahkirnya menyiapkan segala persyaratan administrasi, akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti serangkaian tes tanpa dipungut biaya.

Sejak kecil tidak berniat atau bercita-cita untuk menjadi seorang tentara, bahkan semasa kecilnya dihabiskan dengan bermain bola dan sempat mengikuti sekolah sepak bola di Palembang. Nasib beruntung ternyata tidak membawanya menjadi pemain sepak bola, melainkan sebagai seorang tentara yang hampir 12 tahun telah dijalaninya. Harus meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan bahkan beberapa tahun tidak pernah menurunkan jiwa patriotnya sedikitpun. Disaat sedang bosan dan jenuh, ia mengisi kegiatan dengan memancing.

Selain menyukai sepak bola, beliau juga tak jarang menghabiskan masa kecilnya dengan memancing. Sejak umur 8 tahun, sudah sering diajak ayahnya memancing. Sama seperti anak lainnya yang pastinya senang jika bermain dengan air, Bung Welly pun merasa demikian. Baginya kegiatan mancing bisa menghilangkan rasa jenuh.

Mengawali mancing di spot freshwater, tentunya memilki kesan dan pengalaman tersendiri. Salah satu pengalaman yang terlupakan saat harus melewati hutan dan jalan yang terjal, ditambah ketika pulang kendaraan yang digunakan mengalami rusak sehingga harus menunggu teman untuk menjemput. “Waktu kecil dulu, saat pertama kali mancing, hampir tenggelam karena alat pancing yang digunakan tersangkut, jadi mau tidak mau memberanikan diri untuk menyebur padahal belum bisa berenang” ungkap Bung Welly kepada redaksi MM sambil tertawa.

Pengalaman menarik lainya yang  ia ceritakan yaitu saat mancing di Aceh. Berbekal piranti pancing yang biasa dan masih menggunakan teknik dasaran, pria yang usianya menginjak 31 tahun ini merasa heran saat umpannya disambar seekor ikan dengan bentuk buntal. Ia mengira itu ikan buntal, tapi ternyata mata dan hidungnya memiliki sirip seperti hiu dengan berat sekitar 18 kg. Ketika ditanya kepada teman-teman dan nelayan yang ikut memancing, nyatanya mereka juga tidak tahu dan tidak pernah melihat jenis ikan ini, sehingga ahkirnya dilepaskan kembali.

Walaupun hampir 1 tahun lebih meninggalkan keluarga di Palembang dan bertugas di Aceh, ini membuatnya semakin banyak menghabiskan waktu dengan memancing. Salah satunya di pedalaman Alue Bilie. Bukan tanpa sebab, menurut penuturan Bung Welly “Kebetulan tempat saya tinggal banyak spot freshwater atapun saltwater yang jaraknya tidak terlalu jauh, jadi lebih mudah untuk mancing” begitulah penuturan pria yang sudah dikarunia 1 anak ini.

Saat ditanya mengenai teknik mancing yang digunakan, Bung Welly mengaku menyukai teknik mancing casting, alasanya teknik ini sedikit lebih fleksibel. Dan jika memancing freswater, ia biasanya memakai senar PE 1 dengan teknik casting. Sebelum mengakhiri obrolan dengan redaksi Mancingmania.com, Bung Welly berharap “Bisa terus memancing diamanapun dan kapanpun” ungkap Bung Welly. (bima kepada red.mm)

Related Post

Your comment is awaiting moderation.